female-teacher-with-book-pointing-at-scribbled-blackboard-3771074/
Beberapa hari terakhir, suasana politik kita cukup ramai dengan isu pergantian Menteri Keuangan, dari Sri Mulyani ke Purbaya. Nah, setiap kali ada menteri baru, biasanya para ekonom, pengamat, dan analis langsung bermunculan dengan seabrek angka: pertumbuhan ekonomi kuartal sekian, outlook sekian persen, inflasi ke koma-koma.
Sebagai orang non-ekonomi, saya sering tertegun: kok bisa ya mereka begitu lancarnya menjelaskan angka-angka itu, seolah semua sudah pasti dan tinggal dibaca dari layar komputer?
Saya sendiri, karena tidak terlalu fasih bahasa ilmu manajemen dan juga ekonomi. Saya sering mencari “jalan lain” untuk mencoba memahaminya dengan cara saya sendiri. Dan salah satu jalan pintas itu adalah mencoba meminjam rumus-rumus fisika. Sebuah kajian manajemen dengan aplikasi Hukum Newton dalam memahami masalah manajemen pun sudah saya jadikan paper. Maaf ya, itu Scopus Q3 pulak!
OK, untuk masalah pertumbuhan ekonomi yang lagi hangat dibicarakan, kira-kira begininilah rumus awalnya. Rumus yang saya pakai adalah rumus klasik dari Termodinamika. Lagi suka-suka aja mau pakai rumus itu.
dE/dt = P – α·E
dimana:
- E = energi (dalam fisika), saya analogikan sebagai ekonomi
- P = input energi (misalnya bahan bakar), saya analogikan sebagai produktivitas atau investasi baru
- α·E = kehilangan energi (entropi), saya analogikan sebagai inefisiensi, korupsi, biaya sosial, atau kebocoran ekonomi
Kalau saya ubah bahasanya ke ekonomi, kira-kira jadinya begini:
dG/dt = I – β·G
dimana:
- G = ukuran ekonomi (GDP, misalnya)
- I = input ekonomi (investasi, belanja pemerintah, produktivitas tenaga kerja)
- β·G = kehilangan daya dorong (inefisiensi, korupsi, inflasi, kebocoran struktural)
Lalu, solusi matematisnya bagaimana? Rumus di atas adalah persamaan diferensial linear sederhana. Supaya terkesan rumit ada usahanya, diubah dikit model-model eksponensial biar disangka orang keren (padahal gak juga ya!). Kira-kira beginilah solusinya:
G(t) = (I/β) · (1 – e^(-β·t)) + G(0)·e^(-β·t)
dimana:
- G(0) = kondisi ekonomi awal
- (I/β) = kondisi steady state (ekonomi jangka panjang kalau tidak ada perubahan besar)
- e^(-β·t) = faktor peluruhan akibat inefisiensi
Kalau kita lihat, pada awalnya pertumbuhan ekonomi bisa kencang, tapi lama-lama akan melambat karena “entropi ekonomi” makin besar. Kalau ingin pertumbuhan tetap kencang, ya harus memperbesar I (investasi, produktivitas) atau memperkecil β (mengurangi inefisiensi/kebocoran).
Jadi, ketika para ekonom dengan lancar mengucapkan angka-angka persentase pertumbuhan dan proyeksi inflasi, saya yang orang teknik ini memilih membayangkan bahwa ekonomi itu seperti mesin diesel. Ada input bahan bakar (investasi), ada tenaga keluar (GDP), dan ada pula panas terbuang (inefisiensi).
Bedanya, mesin diesel bisa dihitung dengan termodinamika klasik. Ekonomi? Yah, rumus ini baru draft riset saya saja. Siapa tahu kelak bisa jadi model alternatif yang lebih mudah dipahami orang non-ekonomi.
Hmmmm, dapat tiba-tiba idea lagi nich. Saya kepingin mengembangkan rumus ecek-ecek ini dengan melibatkan parameter lingkungan. Siapa tahu dampak dari kerusakan/perbaikan hutan atau kerusakan /perbaikan tambang bisa diakomodasi oleh penurunan rumus ini nantinya! Ini harus dimainkan dengan berbagai skenario biar terkesan canggih aja.
Kalau ada waktu lagi, saya akan coba utak-atik lagi. Siapa tahu hasil corat-coretnya bisa jadi paper Scopus lagi. Tadi ini sekedar iseng-iseng aja. Gara-gara nonton TikTok yang isinya soal pergantian Menkeu, akhirnya ngelantur jadi tulisan ini deh. Maaf ya bagi yang sudah baca ! Waktunya jadi terbuang hanya gara-gara membaca tulisan yang tidak bermutu ini #smile
