Sebuah pemandangan pantai di Banten (Sumber: pexels-tomfisk-2246950)
Indonesia itu aneh. Aneh banget, bro! Pasti bikin kaget. Kok bisa ya, negeri seindah ini, sekaya ini, tapi pilihannya sering bikin garuk-garuk kepala? Lha, memangnya kenapa, brodie-qoe? Kenapa lebih senang bikin lubang daripada merawat surga yang bisa hidupkan rakyat? Eh, santai dulu… markilik … mari kita kulik! Lihat fakta sesungguhnya di balik negeri kita yang luar biasa ini!
Kaya alam. Pantai, laut, gunung, hutan, danau. Kaya budaya. Tari, bahasa, upacara, kerajinan. Kaya kuliner. Setiap sudut punya rasa berbeda. Kaya situs sejarah. Borobudur, Prambanan, jejak sejarah di banyak tempat. Semua itu nyata. Orang asing datang dan kagum. Tapi anehnya, kita sendiri kadang tidak sadar akan kekayaan ini. Lha, kita punya surga di depan mata, tapi tetap sibuk menggali lubang dan bikin hutan menangis. Heran, kan? Kaya raya, tapi kok pilihannya selalu… rusak dulu baru mikir untung?
Beberapa hari lalu saya duduk di warung kopi bersama teman-teman pencinta lingkungan. Ngobrolnya santai, kadang serius, sering tertawa. Ada dosen, pekerja NGO, arsitek, jurnalis, sampai pelaku wisata kecil. Dari obrolan itu muncul satu rasa: heran. Kita diberi alam seperti tabungan yang bisa dicairkan bertahun-tahun, tapi kebijakan lebih suka menengok ke yang cepat. Yang bisa diambil dan habis. Tambang. Ekstraksi. Lubang besar. Duit cepat.
Kami saling bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing di lapangan. Ada yang baru pulang dari desa wisata di Sulawesi Barat, ada yang sedang memetakan potensi ekowisata di Sumatera Utara. Tawa muncul ketika membahas birokrasi yang sering menghambat, tapi tetap ada semangat optimis: jika kebijakan berpihak, pariwisata bisa menghidupkan desa-desa terpencil. Suasana warung kopi itu hangat, penuh ide liar, dan penuh keyakinan bahwa alam Indonesia bisa jadi mesin kehidupan, bukan hanya objek dieksploitasi.
Bayangkan saja. Indonesia punya Raja Ampat, Danau Toba, Labuan Bajo, Bromo, Karimunjawa, Wae Rebo, dan Pulau Weh. Semua indah, semua punya potensi ekonomi lokal besar. Tapi yang selalu jadi prioritas: tambang. Batu bara, nikel, tembaga, emas. Cepat jadi uang, cepat habis, meninggalkan bekas. Sungai yang dulu jernih kini keruh, hutan yang rimbun menjadi tanah kering, fauna hilang dari habitatnya. Pariwisata? Hanya jadi jargon kampanye, brosur cantik, kalender event. Lha, surga ada di depan mata, tapi kita tetap menggali lubang. Hebat, kan?.
Padahal, sektor pariwisata punya rantai panjang: hotel, sopir, juru masak, petani, nelayan, perajin, pemandu lokal, UMKM. Roda ekonomi yang bergerak sampai desa-desa. Bukan hanya untuk satu generasi, tapi lintas generasi. Bayangkan jika energi dan perhatian dialihkan dari tambang ke desa-desa wisata ini. Anak muda bisa bekerja di desa sendiri, petani tetap bercocok tanam, nelayan tetap menangkap ikan, pengrajin tetap hidup dari kerajinan tangan. Semua bergerak tanpa merusak alam
Tambang memang cepat menghasilkan uang, tapi itu uang instan. Sering hanya dinikmati segelintir pihak, sementara masyarakat lokal menjadi penonton. Bayangkan jika energi yang sama dialihkan ke desa-desa wisata: ratusan desa di seluruh nusantara bisa bergerak. Desa Wae Rebo, Flores, misalnya, mulai menarik wisatawan dengan rumah adat dan budaya Manggarai. Jika dikelola lebih serius, desa itu bisa hidup dari homestay, kuliner lokal, kerajinan tangan, dan paket wisata budaya. Anak muda bisa tetap di desa, petani bisa bercocok tanam, nelayan tetap menangkap ikan. Semua bergerak tanpa merusak alam.
Selain ekonomi, pariwisata juga memicu inovasi lokal. Misalnya, pengolahan kuliner khas, pembuatan kerajinan modern dari bahan lokal, pengelolaan homestay, hingga digitalisasi promosi dan pemesanan online. Desa-desa kecil bisa memanfaatkan platform digital untuk menjangkau wisatawan dunia. Dengan cara ini, desa tetap hidup, budaya dilestarikan, dan alam terjaga. Bayangkan generasi muda di desa-desa itu. Mereka tidak perlu merantau ke kota besar atau bekerja di sektor yang merusak alam. Mereka bisa menjadi pengelola homestay, pemandu wisata, chef kuliner lokal, pengrajin kreatif, bahkan pelaku bisnis digital berbasis desa. Potensi ini bukan sekadar pekerjaan, tapi masa depan yang berkelanjutan, yang menumbuhkan rasa bangga terhadap tanah kelahiran mereka.
Yang ironis, pemerintah sering mengklaim “pembangunan ekonomi”. Tapi pembangunan seperti apa jika hanya menimbun lubang di bumi dan mengikis hutan? Sektor pariwisata, yang memiliki rantai ekonomi lebih panjang, menyerap tenaga kerja lebih banyak, dan tidak merusak lingkungan, justru jarang jadi prioritas. Paradoksnya jelas: kekayaan alam ada di depan mata, tetapi kebijakan memilih cara yang merusak.
Kita sebenarnya tidak kekurangan contoh. Bali sudah membuktikan: devisa besar, lapangan kerja banyak, semua bergerak. Tapi Bali tidak boleh jadi satu-satunya cerita. Pariwisata Indonesia harus lebih merata. Thailand dan Jepang sudah menunjukkan, hampir tiap kota bisa jadi destinasi wisata, dari sejarah sampai budaya, dari pantai sampai pegunungan. Bahkan Turki mampu menjual sejarah dan budaya sebagai magnet ekonomi. Mengapa Indonesia tidak bisa meniru pola itu?
Indonesia punya Raja Ampat, Danau Toba, Labuan Bajo, Bromo, Karimunjawa, hingga Pulau Weh. Semua indah, semua bisa hidupkan ekonomi lokal. Sayangnya, akses masih mahal, promosi terbatas, fasilitas belum merata. Pemerintah perlu shift mindset: dari ekonomi ekstraktif ke ekonomi kreatif-ekologis. Alihkan sebagian subsidi dan investasi dari tambang ke pariwisata.
Efek dominonya akan besar. Anak muda bisa bekerja di hotel, kafe, biro perjalanan. Petani bisa suplai sayuran ke restoran. Nelayan bisa jual ikan segar ke penginapan. Pengrajin bisa hidup dari kerajinan tangan. Semua bergerak. Lingkungan tetap terjaga. Hutan tidak ditebang, gunung tidak dilubangi, laut tetap bersih. Pariwisata bisa jadi “tambang abadi”; yang digali bukan batu, tapi pengalaman dan keindahan.
Selain ekonomi, pariwisata juga memicu inovasi lokal. Misalnya, pengolahan kuliner khas, pembuatan kerajinan modern dari bahan lokal, pengelolaan homestay, hingga digitalisasi promosi dan pemesanan online. Desa-desa kecil bisa memanfaatkan platform digital untuk menjangkau wisatawan dunia. Dengan cara ini, desa tetap hidup, budaya dilestarikan, dan alam terjaga.
Coba bayangkan generasi muda di desa-desa itu. Mereka tidak perlu merantau ke kota besar atau bekerja di sektor yang merusak alam. Mereka bisa menjadi pengelola homestay, pemandu wisata, chef kuliner lokal, pengrajin kreatif, bahkan pelaku bisnis digital berbasis desa. Potensi ini bukan sekadar pekerjaan, tapi masa depan yang berkelanjutan, yang menumbuhkan rasa bangga terhadap tanah kelahiran mereka.
Jika pemerintah serius, pariwisata bisa menjadi mesin ekonomi hijau. Mesin yang berjalan puluhan tahun tanpa takut habis. Mesin yang menghidupi masyarakat lokal, menyebarkan kesejahteraan, dan menjaga lingkungan. Ini bukan mimpi. Contohnya ada di banyak negara. Sekarang saatnya Indonesia mencontoh dan memperluasnya ke seluruh nusantara.
Indonesia selalu dihadapkan pada pilihan: cepat habis atau panjang umur. Tambang bisa cepat menghasilkan uang, tapi meninggalkan lubang dan kerusakan. Wisata pelan, tapi memberi kehidupan lintas generasi. Anak muda tetap bisa bekerja di desa sendiri. Petani tetap bisa bercocok tanam. Nelayan tetap bisa menangkap ikan. Perajin tetap bisa hidup dari kerajinan tangan. Semua bergerak tanpa merusak alam.
Kita sudah diberi modal luar biasa: gunung, pantai, hutan, budaya, sejarah, kuliner, dan kekayaan alam lain yang tak terhitung. Tapi ironisnya, semuanya bisa hilang sekejap jika hanya dijadikan brosur cantik di meja biro perjalanan atau ditambang habis-habisan demi keuntungan cepat. Indonesia harus berani mengambil sikap: mau jadi bangsa yang menggali lubang demi instan profit, atau bangsa yang merawat surga kehidupan dan memberi masa depan bagi rakyatnya. Tambang meninggalkan kehancuran, keserakahan, dan lubang yang tak tertutup. Wisata meninggalkan kehidupan, harapan, dan lapangan kerja yang berkelanjutan. Pilihan itu tidak menunggu. Pilihan itu ada di tangan kita. Sekarang. Hari ini. Jangan tunggu lagi, bro. Karena surga ini bukan milik orang asing, tapi milik kita semua.
Jadi, mau ikut menggali lubang, atau ikut merawat surga kehidupan ini? Pilihan itu di tanganmu, brodie!
