"Catatan dari INDUSTRI & ENERGY"

Komitmen Indonesia pengurangan emisi karbon

Erkata Yandri

Erkata Yandri

Sebuah catatan yang kubuat, ketika Presiden Yudhoyono menghadiri KTT G20 di Pittsburg, USA September 21 untuk 22, 2009. Pada intinya, apa yang telah disepakati, harus dianggap serius, termasuk dengan Indonesia tanpa terkecuali. Meskipun presiden telah berubah, tetapi beberapa bagian masih relevan dengan situasi saat ini. Selamat membaca.

————————————

Pada pertemuan “KTT G20,” diselenggarakan di Pittsburgh, Amerika Serikat dari 24-25 Bulan September 2009, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato bahwa Indonesia adalah negara pertama yang menetapkan target pengurangan emisi karbon, kedua target jangka pendek, target jangka menengah, serta target jangka panjang 2020-2050. Pidato SBY mewakili 20 dari 77 negara-negara yang hadir pada KTT berkembang. Sejumlah LSM internasional berharap banyak klaim dari SBY pidato semakin banyak negara yang serius menangani isu perubahan iklim global.

Kemudian, pada pertemuan tersebut “Climate Change Talks” diadakan di Bangkok dari tanggal 28 September 9 Bulan Oktober 2009, Indonesia kembali menegaskan target pengurangan emisi karbon dengan 26% sampai tahun 2020. Pernyataan Indonesia juga positif oleh banyak delegasi dari negara-negara lain yang juga hadir dalam pertemuan tersebut (Kompas, Bulan Oktober 5, 2009).

Rakyat Indonesia harus bangga dengan apresiasi dunia. Mengapa? Jika komitmen berani pada forum berasal dari negara-negara pencemar terbesar di dunia, penghargaan ini bisa dibilang biasa-biasa saja karena itu harus. Namun Begitu, karena ke depan adalah Indonesia, nilai apresiasi harus luar biasa. Tanpa komitmen, jangan berharap banyak untuk menahan laju pertumbuhan konsumsi energi primer dunia meningkat empat puluh lima persen 20062030 (IEA, 2008). Sebagai akibat, suhu rata-rata global akan meningkat tiga derajat Celcius, dan bahaya perubahan iklim mengancam lautan dunia. Disinilah letak alasan untuk apresiasi.

Ada dua sinyal yang dikirim dari komitmen ini.

Yang pertama adalah sinyal untuk reaksi positif dari duo China dan India (Chindia) sebagai “Raksasa ekonomi” di negara berkembang Asia untuk serius memikirkan agenda perubahan iklim. Dari konsumsi bahan bakar fosil di 2006, kontribusi emisi karbon global dari kedua negara telah mencapai nomor dua puluh enam persen. Untuk China sendiri memiliki dua puluh satu persen sementara India kurang dari seperempat, atau hanya mencapai lima persen. Coba bandingkan dengan Indonesia, yang hanya kurang dari satu persen dari emisi karbon total dunia. Jika China dan India yang memikat dan komitmen yang lebih serius untuk maju, maka berdampak pada pencapaian emisi karbon global akan jauh lebih terasa.

Yang kedua adalah sinyal untuk melihat reaksi yang serius dari negara-negara maju yang telah menguasai teknologi energi terbarukan untuk lebih aktif membantu Indonesia dalam mengembangkan dan memanfaatkan sumber energi terbarukan memiliki. Selain berkontribusi untuk mengurangi emisi karbon diharapkan pengembangan energi terbarukan juga akan berdampak pada pengurangan ketergantungan energi pada minyak Indonesia akan cukup meningkat sejak devisa Indonesia ke negara-negara pengimpor minyak di 2004.

Tambahan lagi, pengaruh perkembangan industrialisasi sektor energi terbarukan juga akan meningkatkan ketersediaan lapangan kerja. Strategi untuk mewujudkan target, tentu saja, yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana mewujudkan komitmen ini. Di 2006, total konsumsi energi primer dari energi fosil masih di nomor sembilan puluh lima persen, sedangkan target sampai tahun 2025 sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden No. 5 di 2006 adalah delapan puluh lima persen.

Ini berarti bahwa harus ada setidaknya setengah persen per tahun penurunan. Diperkirakan target ini akan sulit dicapai karena konsumsi energi fosil akan terus tumbuh sekitar delapan persen per tahun meskipun cukup cocok dengan pertumbuhan energi terbarukan selama sekitar lima belas persen per tahun (PEUI, 2006). Namun Begitu, Indonesia tidak perlu takut jika benar-benar serius dan percaya diri dalam memenuhi komitmen ini.

Keseriusan hanya dapat dilihat oleh seberapa kuat pemerintah dalam mendukung kebijakan yang memadai untuk dua hal, yaitu efisiensi energi dan energi terbarukan. Efisiensi energi adalah fokus pada sektor industri dan transportasi karena kedua sektor ini mengkonsumsi tidak kurang 81 dari persen dari total energi primer. Sudah saatnya perhatian pemerintah yang lebih dan mendorong industri lebih efisien dalam penggunaan energi. Pemerintah juga harus berani mengurangi pertumbuhan industri boros dalam konsumsi energi tetapi dampak ekonomi pada kerusakan lingkungan kecil dan besar.

Untuk energi terbarukan, pemerintah harus membuat regulasi yang mendukung pemanfaatan energi terbarukan, meningkatkan pemanfaatan sumber energi terbarukan lokal, mekanisme pendanaan yang jelas untuk pengembangan energi terbarukan, mendorong transfer teknologi terbarukan energi, mendukung pertumbuhan industri yang terkait dengan energi terbarukan, dan menetapkan harga energi fosil berdasarkan harga ekonomi.

Semoga pujian dan kekaguman dari negara-negara lain tidak membuat Indonesia dan kepemimpinan melayang oleh SBY lima tahun ke depan untuk memberikan pijakan yang kuat dalam menentukan strategi energi nasional di masa depan.

Mudah-mudahan itu tidak “Biru Komitmen”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *